Kelompok Belajar Sebaya NYATA

PENDIDIKAN KESETARAAN PAKET C BAGI KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DAN HIV/AIDS DALAM KELOMPOK BELAJAR SEBAYA N.Y.A.T.A

Kelompok Belajar sebaya N.Y.A.T.A adalah sebuah kelompok independent yang dibentuk atas dasar kesadaran akan pentingnya proses belajar dalam kehidupan khususnya untuk remaja yang dalam segi biologis, psikologis, dan sosioligis memiliki kebutuhan khusus. Secara umum, fase remaja merupakan fase pencarian jati diri yang seringkali tidak dapat dikendalikan oleh lingkungannya.

Kebutuhan remaja untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya bisa dimanfaatkan untuk proses sosialisasi yang normatif, sehingga remaja tidak terjerumus kedalam pergaulan yang tidak sehat. Maka dibentuklah Kelompok Belajar Sebaya yang merupakan kumpulan remaja yang saling berbagi pengetahuan lewat dialog dan diskusi mengenai hal apa saja yang berkaitan dengan kehidupan.

Secara harfiah, nyata berarti tidak fiktif atau benar-benar ada. Sedangkan N.Y.A.T.A dalam Kelompok Belajar Sebaya ini merupakan akronim dari Niat, Yakin, Aktif, Tekad, dan Aplikatif. Akronim tersebut memperlihatkan bahwa kelompok belajar sebaya ini memiliki niat yang baik dan normatif dalam setiap sesi perkumpulannya, yakin akan kekuatan niat baik tersebut sehingga menumbuhkan kemauan untuk aktif dalam setiap sesi, memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan pengetahuan baru agar lebih maju serta berusaha untuk aplikatif setelah mendapatkan pembelajaran, sehingga hal normatif apapun yang didapatkan akan bermanfaat untuk kehidupan.

Kelompok Belajar Sebaya ini sebelumnya tidak mengkhususkan untuk menampung anggota yang menjadi korban penyalahgunaan Napza, tetapi seiring waktu pada masa berjalannya Kelompok Belajar Sebaya yang diprakarsai oleh Saudara Zamzam Aulia Salman akhirnya mengangkat segmen remaja korban penyalahgunaan Napza karena dianggap lebih penting pada saat ini.

Melihat fenomena penyalahgunaan Napza oleh remaja yang semakin merebak, sekaligus keadaan lingkungan yang mendukung untuk membidik segmen tersebut, maka pada akhirnya kelompok belajar sebaya ini mengkhususkan sasarannya pada remaja korban penyalahgunaan Napza.

Kelompok Belajar Sebaya ini menyusun kurikulum pembelajaran yang membahas mengenai pengetahuan umum dan pengenalan lingkungan yang tepat bagi remaja. Seperti tentang Kebersihan Diri (Personal Higynes), Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), Napza, HIV/AIDS, Injection Drugs User (IDU’s) Meeting, dan materi lain yang diberikan berdasarkan kebutuhan anggota.

a. Philosophy Logo Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

1) Tameng Hitam, menggambarkan sebuah kewaspadaan yang tinggi dengan perubahan jaman dan tuntutan lingkungan yang semakin maju, tetapi waspada bukan berarti mencurigai, hanya sebuah refleksi dari kehati-hatian kelompok.

2) Gambar Dewi Andalusia, merupakan gambaran Dewi Penghembus Angin Perubahan di masa Romawi kuno, dimana Dewi Andalusia ini menggambarkan niat perubahan yang positif dari para anggota Kelompok dengan melakukan pembelajaran.

3) Huruf N dengan garis lurus diatas, memperlihatkan bahwa diatas niat akan ada batas yang menentukan tujuan.

4) Huruf Y yang digambarkan dengan Trisula, menggambarkan senjata Dewa Siwa dalam mitos Hindu-India, yang melambangkan kekuatan tekad untuk melakukan segala perubahan dengan kekuasaan dan kemampuan tangan sendiri.

5) Huruf A yang dibentuk dengan ujung anak panah, menunjukan satu arah tujuan yang akan dibidik oleh kelompok, yaitu menuju perubahan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

6) Huruf T yang merupakan inisial dari kata Tekad, menjadi sebuah gambaran tentang keinginan yang kuat untuk berubah dan keyakinan yang teguh untuk maju menjadi lebih baik.


b. Struktur Kepengurusan Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Kelompok Belajar Sebaya ini tidak memiliki satu pemimpin atau satu penguasa (penentu keputusan), tetapi pimpinan tertinggi berada pada keputusan bersama hasil musyawarah atau mufakat.

Sedangkan Struktur Kelembagaan Pengelola pada Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A adalah sebagai berikut :

c. Tujuan Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Menjadi perintis komunitas yang memperjuangkan hak Pendidikan Kelompok Remaja dengan kebutuhan khusus, termasuk Korban Penyalahgunaan Napza dan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), yang secara umum mengalami stigma dan diskriminasi, termasuk dalam hak pendidikan.

d. Nilai Dasar Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Nilai dasar yang menjadi acuan dalam kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A adalah kenyamanan dan antusiasme warga belajar, hal tersebut menjadi penting karena ketika warga belajar merasa nyaman dengan tata ruang, metode dan strategi belajar serta sumber dan pamong belajar, maka dapat dipastikan warga belajar tersebut akan antusias sekali dalam proses belajar mengajar.

e. Visi dan Misi Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

· Visi Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Menyatakan pendidikan sebagai awal perubahan dan merubah pendidikan menjadi kenyataan bagi semua orang tanpa stigma dan diskriminasi golongan serta latar belakang.

· Misi Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Niat yang lurus, Yakin akan kemampuan dan cita-cita, Aktif ikut berperan serta, memiliki Tekad yang kuat dan meng-Aplikasikan setiap hasil belajar dalam kehidupan menjadikan hari esok lebih baik.

f. Program Jangka Pendek Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Program jangka pendek dilakukan dalam rentang waktu satu hingga tiga bulan, untuk jenis kegiatan program jangka pendek kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A terbagi menjadi empat kegiatan, yaitu :

· Program pembelajaran Pendidikan Kesetaraan Paket B dan Paket C dilakukan setiap dua kali dalam seminggu, setiap hari kamis dan hari Sabtu, pada pukul 14.00 sampai dengan 18.00.

· Program Open Meeting Citopsict (Ciroyom Teritorial Positif and Addict) dilakukan setiap dua kali dalam satu bulan, yaitu setiap hari minggu di minggu pertama dan minggu ketiga. Program Open Meeting ini membahas seputar permasalahan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) serta Epidemi HIV/AIDS. Pertemuan ini terbuka untuk siapa saja yang berminat dan peduli terhadap kedua isu yang diangkat, baik itu ODHA (Oran Dengan HIV/AIDS), yaitu orang yang telah positif terinfeksi virus HIV/AIDS atau OHIDA (Orang Hidup Dengan HIV/AIDS) yaitu orang yang hidup disekeliling ODHA, baik itu keluarga, teman, sahabat atau pasangannya.

· Program Close Meeting Citopsict (Ciroyom Teritorial Positif and addict) dilakukan setiap satu kali dalam satu bulan. Dilaksanakan pada hari minggu, minggu keempat. Program Close Meeting ini merupakan pertemuan tertutup hanya antara ODHA saja, jadi tidak boleh diikuti oleh OHIDA atau orang lain. Program Close Meeting ini membahas mengenai Epidemi HIV/AIDS, Pasien Berdaya, Pemberdayaan ODHA serta langkah-langkah pengobatan atau terapi yang dikonsultasikan juga dengan dokter dan Dinas Kesehatan.

· Program VCT (Vollunterred Counseling and Testing), yaitu program pemeriksaan darah secara sukarela bagi para Penasun (Pengguna Napza Suntik) atau orang yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS, seperti pasangan ODHA, atau remaja yang memiliki kebiasaan seksual aktif sebelum menikah (sex before married) dilaksanakan setiap tiga bulan sekali, pada hari minggu di minggu kedua, dibulan pertama.

g. Program Jangka Panjang Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Program jangka panjang Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A bersifat insidental, yaitu sekali dalam setahun, program-program tersebut adalah :

· Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan Paket B dan Paket C

· Peringatan Hari Anti Madat Internasional, pada tanggal 26 Juni setiap tahunnya.

· Hari Persahabatan Sedunia setiap tanggal 3 Agustus

· Peringatan Hari Baca Tulis Sedunia atau International Literacy Day pada tanggal 8 September setiap tahunnya.

· Peringatan Hari Perdamaian Dunia pada tanggal 21 September pada setiap tahunnya.

· Peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia, pada tanggal 1 Desember setiap tahunnya.

h. Prinsip-Prinsip Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Prinsip-prinsip yang dipegang oleh Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.TA adalah Prinsip perubahan positif, dengan maksud sekecil apapun perubahan yang terjadi apabila hal tersebut merupakan hal yang positif, maka sudah dapat disebut sebagai keberhasilan pembelajaran bagi semua warga belajar.2. Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A dan Kebutuhan Belajar Korban Penyalahgunaan Napza

Jostein Gaarden (1996) mengungkapkan bahwa ”Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manusia secara terus menerus tanpa henti, hal tersebut bisa disadari ataupun tidak disadari”. Proses belajar adalah suatu proses yang merubah keadaan menjadi lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tahu menjadi paham. Maka secara logika, manusia akan selalu membutuhkan proses belajar dalam menjalani kehidupannya, bahkan tidak terkecuali para penyalahguna Napza dan mantan penyalahguna Napza.

Hasil penelitian Divisi Pemberdayaan Citopsict (Ciroyom Teritorial Positif and Addict) menunjukkan bahwa 97% (116 orang) dari 120 orang koresponden penyalahguna Napza aktif, dan 100% dari 50 orang koresponden mantan penyalahguna Napza menyatakan masih merasa membutuhkan proses pembelajaran dalam segala hal, termasuk di dalamnya proses belajar dalam jenjang pendidikan formal (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi).

Hasil wawancara personal antara pengurus dengan warga belajar paket C menunjukkan bahwa alasan mereka putus sekolah adalah karena drop-out. 50% dari mereka drop-out karena masalah Napza, 30% karena perkelahian antar pelajar dan 20% karena sering bolos. Sedangkan alasan mereka tidak melanjutkan kembali sekolahnya adalah 25% karena tidak ada biaya, 30% karena tidak mau pindah sekolah, 35% karena ditolak oleh sekolah formal dengan alasan penampilan (tato, piercing, model rambut Mohawk atau Punk), dan 10% karena tidak mau mengikuti aturan sekolah yang dianggap terlalu ketat bagi gaya hidup mereka.

A. Deskripsi Model Perencanaan Program Pendidikan Kesetaraan bagi Korban Penyalahgunaan Napza

Model perencanaan program pendidikan kesetaraan bagi korban penyalahguna Napza tentu saja akan berbeda dengan model perancanaan pendidikan kesetaraan bagi masyarakat pada umumnya, karena secara psikologis, sosiologis dan biologis pun keadaan para penyalahguna Napza akan berbeda. Hal inilah yang disebut dengan kelompok berkebutuhan khusus. Maka model perencanaannya pun juga khusus.

Model perencanaan pendidikan luar sekolah secara universal yang dikemukakan oleh Sudjana (2004:57) jika digambarkan dengan skema, maka akan menjadi sebuah gambaran umum model perencanaan seperti yang terdapat pada gambar dibawah ini :


Berbeda dengan model perencanaan pendidikan luar sekolah secara global yang dikemukakan oleh Sudjana, Hernowo mengatakan dalam bukunya ”Andai Buku Sepotong Pizza” (2002:89), bahwa proses perencanaan yang baik terbagi dalam beberapa bagian, dan bagian tersebut melingkupi perencanaan umum (univesal) dan perencanaan khusus (special).

Perencanaan khusus tetap memegang teguh prinsip perencanaan yang telah digambarkan, tetapi sejalan dengan Komarudin (Sunarto, 2001:67) yang menyebutkan, bahwa secara khusus, perencanaan bisa memiliki 15 (lima belas) prinsip yang juga membuktikan bahwa perencanaan bukan suatu proses yang pendek. Model perencanaan yang dikemukakan oleh komarudin ini jika digambarkan dengan skema

Model perencanaan program pendidikan kesetaraan bagi korban penyalahguna Napza ini dianggap sebagai model perencanaan untuk kelompok berkebutuhan khusus yang juga memiliki poin-poin khusus yang harus diperhatikan, contohnya latar belakang Sosiologis, Psikologi dan Biologis calon warga belajar yang berbeda dengan keadaan umum, karena sebagaimana diketahui, calon warga belajar program paket C ini memiliki catatan historis penyalahgunaan Napza. Maka model perencanaan yang dianggap cocok selain dari model perencanaan Sudjana (2004:57), digunakan pula model perencanaan Komarudin (Sunarto, 2001:67).

Hubungan antar komponen program Pendidikan Luar Sekolah secara luas seperti yang digambarkan Sudjana (2004:34), yaitu gambaran komponen sebagai berikut :

Skema1

Skema4Jika diintegrasikan pada komponen Program Pendidikan Kesetaraan Paket C Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A bagi korban penyalahgunaan Napza, maka akan menjadi :

B. Pembahasan dan Temuan Hasil Penelitian

1. Rekruitmen Calon Warga Belajar Paket C

Tahapan awal yang dilakukan adalah rekruitmen calon warga belajar pendidikan kesetaraan Paket C dengan melakukan pendataan awal sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Rekruitmen ini dilakukan dengan menyebarkan informasi dan undangan pada anggota Citopsict (Ciroyom Teritorial Positif and Addict), yaitu kelompok dukungan sebaya bagi Pengguna Napza dan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS ) diwilayah lingkungan Ciroyom, yang diketahui putus sekolah atau drop-out, baik karena masalah Napza, Perkelahian atau masalah ekonomi.

Rekruitmen calon warga belajar pada tahap awal menghasilkan 17 (tujuh belas) orang calon warga belajar Paket C yang teridentifikasi putus sekolah atau drop-out karena kenakalan remaja (Napza dan perkelahian) dan 2 (dua) orang yang teridentifikasi putus sekolah karena faktor ekonomi.

Setelah beberapa kali pertemuan pengarahan dan identifikasi calon warga belajar, semakin kuatlah tekad para penyalahguna tersebut untuk terus melanjutkan perjuangan demi perubahan perilaku dan kemampuan mereka untuk memperbaiki masa depan, maka karena masing-masing calon warga belajar semakin yakin dan ingin mengajak temannya, bertambahlah jumlah calon warga belajar tersebut menjadi 50 (lima puluh) orang dengan alasan drop-out sekolah yang beraneka ragam dengan spesifikasi yang digambarkan sebagai berikut.

Hasil wawancara personal antara pengurus dengan warga belajar paket C menunjukkan bahwa alasan mereka putus sekolah adalah karena drop-out. 50% dari mereka drop-out karena masalah Napza, 30% karena perkelahian antar pelajar dan 20% karena sering bolos. Sedangkan alasan mereka tidak melanjutkan kembali sekolahnya adalah 25% karena tidak ada biaya, 30% karena tidak mau pindah sekolah, 35% karena ditolak oleh sekolah formal dengan alasan penampilan (tato, piercing, model rambut Mohawk atau Punk), dan 10% karena tidak mau mengikuti aturan sekolah yang dianggap terlalu ketat bagi gaya hidup mereka.

Proses identifikasi yang dilakukan terhadap calon warga belajar program pendidikan kesetaraan paket C di kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A ini mayoritas merupakan anggota kelompok dukungan sebaya (KDS ) Citopsict (Ciroyom Teritorial Positif and Addict), KDS ini dibentuk untuk memfasilitasi para remaja yang terlanjur menjadi korban penyalahgunaan Napza dan terinfeksi HIV/AIDS karena keadaan lingkungan yang beresiko tinggi, dan dominasi pergaulan yang sangat berpengaruh terhadap pola pikir remaja sekitar Ciroyom.

Citopsict memiliki jaringan kerja sama dengan kelompok dukungan sebaya lain yang ada di kota Bandung, yang kemudian juga merasa membutuhkan fasilitas pendidikan dan tertarik untuk ikut menjalin kerjasama dengan kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A, maka kemungkinan untuk melakukan jejaring dengan kelompok dukungan sebaya se-Bandung Raya sangat terbuka lebar. Calon warga belajar yang telah memenuhi syarat administrasi adalah :

2. Tahap Identifikasi Kebutuhan Belajar Anggota Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A

Setelah pendataan, calon warga belajar Paket C yang teridentifikasi tersebut diberikan pengarahan berupa penjelasan mengenai pendidikan kesetaraan, agar mereka mengerti bahwa posisi pendidikan kesetaraan paket C ini setara dengan pendidikan formal SMA, baik dalam segi eligibilitas dan civil effect, bahkan perlakuan dan pengakuan yang sama dengan lulusan pendidikan formal.

Calon warga belajar yang telah diberikan pengarahan oleh pengurus kemudian di data ulang untuk mengetahui keputusan akhir dari mereka, apakah akan melanjutkan untuk ikut pendidikan kesetaraan paket C atau tidak. Setelah pendataan akhir diketahui bahwa 100% (seratus persen) calon warga belajar yang mengikuti kegiatan pengarahan akan melanjutkan pembelajaran.

Identifikasi kebutuhan belajar akhirnya dibagi menjadi beberapa bagian, kebutuhan belajar untuk kepentingan ujian persamaan yaitu kebutuhan belajar mata pelajaran yang akan diujiankan, kebutuhan belajar untuk kepentingan sosial diantaranya adalah penyuluhan dan atau bimbingan mengenai Napza, Epidemi HIV/AIDS, sharing and meeting IDU’s (injection drugs user’s) dan penguatan kelompok belajar sebaya, serta kebutuhan belajar keterampilan hidup (life skill) untuk mendukung pekerjaan atau sekedar bekal agar bisa berwiraswasta setelah lulus program pendidikan kesetaraan Paket C.

3. Model Perencanaan Program Pendidikan Kesetaraan bagi Korban Penyalahgunaan Napza

Model perencanaan yang digunakan dalam perencanaan program pendidikan kesetaraan Paket C bagi korban penyalahgunaan Napza ini mengacu pada model perencanan yang dikemukakan oleh Sudjana (2003:57), dimana disebutkan bahwa :

”Perencanaan adalah proses sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Disebut sistematis karena perencanaan dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsip tersebut mencangkup proses pengambilan keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik secara ilmiah, serta tindakan atau kegiatan yang terorganisasi.”

Sedangkan Schaffer (1970) menjelaskan bahwa

apabila perencanaan dibicarakan, kegiatan ini tidak akan terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan tersebut dimulai dengan perumusan tujuan, kebijakan, dan sasaran secara luas, yang kemudian berkembang pada tahapan penerapan tujuan dan kebijakan itu dalam rencana yang lebih rinci berbentuk program-program untuk dilaksanakan”.

Maka skema model perencanaan tersebut adalah :

Skema2


Prinsip Proses Pengambilan Keputusan

Prinsip proses pengambilan keputusan yang dilaksanakan dalam perencanaan program pendidikan kesetaraan Paket C bagi korban penyalahgunaan Napza ini meliputi beberapa tahapan yang penting, diantaranya adalah :

· Tahap Perumusan Tujuan, Kebijakan dan Sasaran yang luas

Tahapan perumusan tujuan, kebijakan dan sasaran yang luas ini dilakukan berdasarkan koordinasi pengurus utama penyelenggara program pendidikan kesetaraan Paket C, yang hasilnya adalah: pertama, merumuskan tujuan program Pendidikan Kesetaraan Paket C di Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A secara luas, yaitu aksesibilias pendidikan tingkat SMA bagi korban penyalahguna Napza yang terputus hak pendidikannya karena drop-out, rehabilitas, atau dipenjara yang menyebabkan putus sekolah. Kedua, merumuskan kebijakan dalam menjalankan program pendidikan kesetaraan Paket C di kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A, yang didalamya termasuk aturan main yang di dalamnya mengatur strategi belajar, metode belajar, penggunaan media belajar dan bahkan syarat dan ketentuan yang berlaku bagi tutor yang memfasilitasi proses pembelajaran, bentuk kerjasama dengan lembaga lain, kebijakan mengenai integrasi kurikulum dan penyesuaian strategi serta metode belajar, juga ketentuan syarat tutor yang mampu memahami keadaan warga belajar yang memiliki catatan historis korban penyalahgunaan Napza termasuk resiko yang harus dihadapinya. Ketiga, adalah penentuan sasaran secara luas, yaitu sasaran program pendidikan kesetaraan paket C di kelompok belajar sebaya N.Y.A.TA terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan akses pendidikan setara pendidikan formal SMA.

· Tahap Penerapan Tujuan dalam Program

Tahapan penerapan tujuan dalam program ini kemudian diimplementasikan dalam bentuk visi dan misi pendidikan kesetaraan Paket C di kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A, yang pada realisasi dilapangannya menarik banyak perhatian lembaga lain yang kemudian meminta kerjasama.

· Tahap Penentuan Sasaran

Tahapan penentuan sasaran semakin spesifik, dengan sasaran secara luas adalah bagi orang-orang yang membutuhkan aksesibilitas pendidikan kesetaraan Paket C setara SMA, yang secara umum memiliki latar belakang putus sekolah yang beraneka ragam, seperti masalah ekonomi, masalah kenakalan remaja dan masalah sosial remaja. Setelah ditelaah oleh pengurus, ternyata penentuan sasaran yang spesifik akan mempermudah penerapan metode, strategi dan penentuan media belajar serta mempengaruhi pola kurikulum yang diintegrasikan dalam program pendidikan kesetaraan tersebut, maka ditentukanlah sasaran spesifik program pendidikan kesetaraan Paket C di kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A adalah korban penyalahgunaan Napza yang drop-out karena masalah Napza dan resikonya, maksudnya penghentian sekolah karena Perkelahian yang diawali dengan penyalahgunaan Napza, penghentian sekolah karena bolos akibat penyalahgunaa Napza, drop-out karena masuk lembaga permasyarakatan dan drop-out karena masuk panti rehabilitasi, termasuk pula para mantan penyalahguna Napza yang secara medis terbukti bersih (clean) karena sudah menghentikan pemakaian obat jenis apapun (abstinent), yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena faktor usia atau penampilan (tato, piercing, model rambut mohawk atau punk), yang secara hukum dan ketentuan pendidikan formal tidak dapat diterima.

· Tahap Penerapan Kebijakan

Tahapan penerapan kebijakan yang didalamnya menerapkan aturan kebijakan dalam menjalankan program pendidikan kesetaraan Paket C di kelompok belajar sebaya N.Y.A.T.A, termasuk aturan main yang di dalamnya mengatur strategi belajar, metode belajar, penggunaan media belajar dan bahkan syarat dan ketentuan yang berlaku bagi tutor yang memfasilitasi proses pembelajaran, bentuk kerjasama dengan lembaga lain, kebijakan mengenai integrasi kurikulum dan penyesuaian strategi serta metode belajar, juga ketentuan syarat tutor yang mampu memahami keadaan warga belajar yang memiliki catatan historis korban penyalahgunaan Napza termasuk resiko yang harus dihadapinya. Hal ini dilaksanakan dengan tetap mengacu pada kurikulum pendidikan kesetaraan Paket C nasional, hanya saja disesuaikan materi lapangannya dengan keadaan dan kemampuan warga belajar, jadi kurikulum yang diberlakukan merupakan kurikulum yang bermuatan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga warga belajar mampu memahami dan menerapkan hasil belajar tidakhanya secara teori saja, tetapi juga dengan cara mengaplikasikan proses pembelajaran, praktek langsung, atau menggunakan perumpamaan yang berhubungan dengan keseharian warga belajar, sehingga warga belajar akan lebih mudah menyerap setiap materi yang diberikan.

b. Prinsip Penggunaan Pengetahuan dan Teknik secara Ilmiah

Friedman dalam Sudjana (2004:57) mengungkapkan bahwa ”perencanaan adalah proses yang menggabungkan pengetahuan dan teknik ilmiah kedalam kegiatan yang diorganisasi”. Dalam hal ini pengetahuan dan teknik ilmiah yang digunakan adalah pengetahuan dan teknik perencanaan pendidikan luar sekolah yang secara sistematis dilakukan dalam proses perencanaan , termasuk komponen-komponen yang terlibat didalam perencanaan program tersebut. Maka prinsip penggunaan pengetahuan dan teknik secara ilmiah ini telah gunakan dalam Perencanaan program pendidikan kesetaraan Paket C bagi korban penyalahguna Napza di Kelompok Belajar Sebaya N.Y.A.T.A.

Sedangkan Suherman (1988) dalam Sudjana (2004:58) mengungkapkan bahwa:

”perencanaan adalah suatu penentuan urutan tindakan, perkiraan biaya serta penggunaan waktu untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas yang wajar dan efisien untuk tercapainya tujuan”.

Dalam hal ini perencanaan pendidikan kesetaraan Paket C untuk korban penyalahgunaan Napza disesuaikan dengan kemampuan penyelenggara, sesuai dengan kemampuan biaya serta keterbatasan waktu penyelenggara di dasarkan atas data hasil need assesment dan kebutuhan belajar calon warga belajar, dengan prioritas kenyamanan belajar dan fasilitasi pendidikan bagi korban penyalahgunaan Napza untuk mencapai tujuan perubahan sikap mental, perbahan kognitif, afektif dan psikomotorik serta perubahan pola berfikir kritis agar menjadi lebih baik.

c. Prinsip Tindakan yang Terorganisir

Ginan dalam orasi personal (Panazaba – Hari Anti Napza Nasional, 26 Juni 2007) mengungkapkan bahwa :

”setiap perencanaan akan berjalan dengan baik apabila ada pengaturan tindakan yang kemudian dilembagakan secara benar, berbentuk sebuah pengorganisasian atau pengerahan kemampuan”

Model perencanaan program pendidikan kesetaraan Paket C bagi korban penyalahguna Napza di Kelompok Belajar Sebaya ini menggunakan prinsip tindakan yang terorganisir dengan membagi kelompok belajar sesuai kebutuhan warga belajarnya. Tindakan yang terorganisir juga merupakan salah satu strategi yang diimplementasikan secara nyata oleh penyelenggara.

Selain pembagian kelompok warga belajar, tindakan yang terorganisir juga diperlihatkan dengan pengurusan kelompok belajar sebaya yang kemudian berjejaring dengan beberapa lembaga lain, serta pengurusan perijinan yang dilakukan secara sistematis dari mulai tingkat penerintahan terendah sampai pada tingkat kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: