Kondisi Objektif

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:10; mso-list-template-ids:1247173384; mso-list-name:WW8Num13;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:40.8pt; mso-level-number-position:left; margin-left:40.8pt; text-indent:-.25in;} @list l0:level2 {mso-level-tab-stop:72.75pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.75pt; text-indent:-.25in;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in; mso-ansi-language:SV;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:89.25pt; mso-level-number-position:left; margin-left:89.25pt; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:bold;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l1 {mso-list-id:424107624; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1221281976 67698703 -1209250868 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l1:level4 {mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level7 {mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:502937754; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1521751192 67698709 67698689 67698715 972342258 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:40.8pt; mso-level-number-position:left; margin-left:40.8pt; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l2:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:9.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:9.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:.25in; mso-level-number-position:left; margin-left:.25in; text-indent:-.25in;} @list l2:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level7 {mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3 {mso-list-id:1539702982; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2118896212 67698709 859085314 -2029378222 1674456206 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:40.8pt; mso-level-number-position:left; margin-left:40.8pt; text-indent:-.25in;} @list l3:level2 {mso-level-tab-stop:57.9pt; mso-level-number-position:left; margin-left:57.9pt; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l3:level4 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:2049641486; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2021209614 -298435828 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:40.8pt; mso-level-number-position:left; margin-left:40.8pt; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;}

NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya),

serta Korban Penyalahgunaan Napza

Napza, Merupakan akronim dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya, akronim ini dipakai untuk memberikan istilah terhadap obat-obat terlarang yang dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan dan kejiwaan. Ada beberapa istilah atau nama lain yang identik dengan Napza serta dikenal secara umum oleh masyarakat yaitu Narkoba (Narkotika dan bahan-bahan Berbahaya) atau sering juga disebut madat.

Secara umum pengertian Napza adalah zat-zat kimiawi yang apabila dimasukan kedalam tubuh secara oral (diminum, dihisap, dihirup, disedot) maupun disuntikkan (intravena) dapat mengubah pikiran, suasana hati, atau peraasaan dan perilaku seseorang. Hal ini dapat menimbulkan gangguan keadaan sosial yang ditandai dengan indikasi negatif, waktu pemakaian yang panjang dan pemakaian dosis yang berlebihan. (MCR-PKBI, 2004:5).

Narkotika menurut Undang-Undang Narkotika no.22 tahun 1997, Narkotika adalah Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Pengertian Psikotropika menurut Undang-Undang Psikotropika no.5 tahun 1997, Psikotropika adalah Zat atau obat, baik alamiah atau sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Di dalam dunia pengobatan seorang dokter atau tenaga medis lain dalam pengobatan pasien sering menggunakan obat-obatan yang mengandung zat psikoaktif misalnya, morfin, pethidin, valium, metadon,dll. Dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit (analgesik) dan menekan batuk (antitusif) demikian juga dengan dunia penelitian, untuk pengembangan ilmu pengetahuan sering dipergunakan zat-zat psikoaktif untuk membantu peneliti di laboratorium. Tetapi apabila zat atau obat-obatan tersebut digunakan untuk maksud lain, misalnya untuk mencapai kesenangan, kegembiraan, dll, maka disebut dengan istilah penyalahgunaan.

Pengertian secara umum istilah penyalahgunaan adalah penggunaan obat atau zat-zat berbahaya lain diluar tujuan pengobatan dan penelitian (yaitu: tanpa pengawasan dokter, digunakan secara berkala dan terus menerus, digunakan tanpa mengikuti aturan serta dosis yang benar) atau apabila dipakai lebih dari satu bulan dapat menyebabkan gangguan fungsi sosial. Definisi ini secara umum digunakan oleh pihak yang berwajib dalam penanganan kasus-kasus penyalahgunaan Napza

Dampak Penyalahgunaan NAPZA

Secara umum penyalahgunaan obat dapat memberikan dampak jasmaniah, kejiwaan ataupun sosial pada pemakainya disamping tentunya juga dampak terhadap keluarga dan masyarakat umum. Scukit (1978) mengatakan bahwa gabungan antar jenis obat, usia pemakai, keadaan gizi dan penyakit‑penyakit atau stress yang pernah atau sedang di derita akan mengakibatkan masalah‑ masalah yang spesifik untuk masing‑masing pemakai.

Efek obat bagi tubuh tergantung: jenis obat yang digunakan, jumlah dan frekuensi penggunaan, cara menggunakannya serta apakah digunakan bersarnaan dengan obat lain, faktor psikologis (misalnya kepribadian, harapan atau perasaan saat memakai) dan faktor biologis (seperti berat badan dan kecenderungan alergi tertentu pemakai).

A. Dampak Jasmaniah

Dampakjasmaniah dapat langsung oleh bahan yang dipakai, maupun secara tidak langsung, misalnya karena bahan pencampur, pemakaian tidak sesuai aturan atau karena buruknya strerilisasi alat yang dipakai.

Secara fisik organ tubuh yang paling banyak dipengaruhi adalah sistem syaraf pusat yaitu otak dan sum‑sum tulang belakang, organ‑organ otonom jantung, paru, hati ginjal) dan panca indera (karena yang dipengaruhi adalah susunan syaraf pusat) dan pada hakekatnya karena penyalahgunaan obat ini akan menimbulkan komplikasi pada seluruh organ tubuh yaitu:

a. Gangguan pada sistem syaraf (neorologis) seperti: kejang‑kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan saraf tepi.

b. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.

c. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: pernanahan (abses), bekas

suntikan, dan alergi.

B. Gangguan pada paru‑paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi

pernapasan, kesukaran bernapas, pengerasan jaringan paru‑paru,

penggumpalan benda asing yang terhirup.

e. Gangguan pada hemopeotik, seperti: pembentukan sel darah terganggu.

f. Gastrointestinal: mencret, radang lambung & kelenjar ludah perut,

hepatitis, perlemakan hati, pengerasan dan pengecilan hati.

C. Gangguan pada endokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi

(estrogen, progesteron, testosteron), rendahnya kadar gula darah

menyebabkan pusing dan badan bergetar.

h. Gangguan pada traktur urinarius, seperti: infeksi, gagal ginjal, d1l.

i. Gangguan Sistem Reproduksi, seperti gangguan fungsi seksual sampai

kemandulan,gangguan fungsi reproduksi, ketidak teraturan menstruasi,

cacat bawaan pada janin yang dikandung.

j. Gangguan pada otot & tulang, seperti: peradangan ototakut. Penurunan

fungsi otot akibat alkohol, patah tulang.

k. Dapat terinfeksi virus HIV-AIDS, akibat pemakaian jarum suntik

secara bersama‑sama.

A. Dampak Kejiwaan.

Bermacam‑macam gangguan psikiatrik seperti psikotik (gangguan jiwa berat), depresi, tindak kekerasan dan pengrusakan, percobaan‑bunuh diri dapat dijumpai pada penyalah gunaan zat. Depresi sering dijumpai akibat rasa bersalah dan putus asa karena gagal berhenti dari penyalahgunaan zat, terlebih lagi adanya sikap yang menyudutkan/ menyalahkan dari pihak keluarga yang bersangkutan. Beberapa pemakai sudah mempunyai masalah kejiwaan sebelumnya dan penyalahgunaan zat merupakan cara untuk mengatasinya.

Demijan (1997), mengatakan perlu diperhatikan kemungkinan adanya gangguan medis dan kejiwaan pada seorang penyalahguna zat, karena yang bersangkutan biasanya tidak melaporkan hal itu. Mungkin karena tidak disadari atau tidak merasakannya, misalnya rasa nyeri dapat tertutup oleh efek analgesik obat yang digunakan.

Selain dampak secara jasmaniah maupun kejiwaan yang disebutkan oleh penyalahgunaan NAPZA, dapat juga menyebabkan:

a. Intoksitasi (Keracunan):

Merupakan keaadan dimana si pemakai dalam perilakunya sudah menunjukan adanya pengaruh zat‑zat yang digunakan Dalam percakapan sehari‑hari kita sering memakai istiah mabuk tetapi tidak semua gejala intoksikasi sama seperti gejala mabuk terutama pada pemakaian obat perangsang (stimulan).

b. Toleransi:

Istilah ini digunakan untuk menunjukan bahwa seseorang membutuhkan jumlah zat yang lebih banyak untuk memperoleh efek atau akibat yang sama setelah pemakaian berulang kali. Oleh karena itu, dalam jangka waktu lama jumlah atau dosis yang digunakan akan meningkat. Toleransi akan hilang jika gejala putus obat hilang, karena gejala putus obat menunjukan bahwa tubuh kita masih membutuhkan zat atau bahan tertentu.

c. Withdrawal Syndrome (Gejala Putus Obat)

Jika seseorang pemakai obat yang telah kronis tiba‑tiba tidak diberikan obat yang biasa ia pakai, maka timbul gejala‑gejala seperti berkeringat, rasa sakit diseluruh tubuh, suhu badan meningkat atau menurun, mual‑mual, d1l. Gejala seperti ini akan hilang bila obat diberikan.

d. Dependensi (Ketergantungan):

Keadaan dimana seseorang selalu membutuhkan obat tertentu agar dapat berfungsi secara wajar baik fisik maupun psikologis. Ketergantungan fisik misalnya badan menjadi lemah dan sendi‑sendi terasa nyeri pada saat tidak menggunakan obat dalam jangka waktu tertentu. Ketergantungan psikologis ditunjukan oleh adanya perasaan tidak percaya diri dalam pergaulan sehari‑hari jika tidak menggunakan obat.

B. Dampak Sosial dan budaya

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dari mereka yang terlibat perkelahian dan tindak kekerasan lain adalah penyalahguna zat psikoaktif. Karena penyalahgunaan zat psikoakaktif dapat meningkatkan tingkah laku agresivitas baik fisik maupun psikis dari si pemakai.

Dampak negatif dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan NAPZA tidak dapat dihitung dan dinilai dengan uang. Pemakaian obat‑obatan terlarang sudah terbukti dapat meningkatkan berbagai kerawanan sosial dalam masyarakat, seperti meningkatnya tindak kekerasan dan meningkatnya angka kriminalitas baik secara kualitas maupun kuantitas.

Menurut Tommy Sukandar (Tabloid SADAR-BNN, 2007:14), Ada beberapa alasan penyalahgunaan NAPZA penting untuk dicegah, diantaranya:

1. Alasan Kesehatan

Pemakaian obat‑obat terlarang akan membahayakan kesehatan tubuh dan hidup pemakai itu sendiri dan orang lain. Sebab kebanyakan zat yang disalahgunakan akan mempengaruhi sistem syaraf pusat, bahkan sebagian besar mampu merusak dan dapat berakibat fatal.

Alkohol misalnya selain mempengaruhi denyut jantung juga dapat mengakibatkan kerusakan hati yang disebut sirosis. Penggunaan lem perekat yang mengandung organic solvent atau thiner mengakibatkan degradasi (matinya sel‑sel otak). Karena penggunaan obat akan diikuti oleh perubahan pikiran, perasaan, dan perilaku maka hal‑hal yang dalam kondisi normal tidak akan dilakukan seseorang, setelah memakai obat‑obatan tersebut tidak ada yang tidak mungkin ia lakukan termasuk melukai dan membunuh orang lain.

Penggunaan rokok dan alkohol misalnya dapat berakibat fatal pada janin (mengibatkan keguguran) atau merusak masa depan mereka. Banyak bayi lahir dari ibu yang telah memakai obat terlarang cukup lama harus dirawat karena bayi tersebut juga mengalami ketergantungan obat.

Penyalahgunaan NAPZA, terutama yang dipergunakan melalui cara di suntik akan meningkatkan resiko terinfeksi virus HIV/AIDS karena berkurangnya kesadaran (mempengaruhi perilaku seksual seseorang) dan karena adanya pertukaran cairan tubuh (darah) dalam memakai jarum suntik bersama‑sama orang lain.

2. Alasan Sosial Psikologis:

Penyalahgunaan obat biasanya disertai dengan berbagai persoalan sosial psikologis yang cukup berat. Karena penyalahgunaan obat akan mempengaruhi pikiran dan perilaku seorang menjadi liar dan sulit dikontrol. Orang‑orang terdekat baik itu orang tua. Saudara, maupun teman akan merasakan tekanan psikologis yang cukup berat.

1. Alasan Ekonomis:

Biaya yang paling mahal dari penyalahgunaan Napza adalah menurunnya kulitas sumber daya manusia karena potensinya, baik secara fisik maupun mental telah dirusak oleh penggunaan Napza.

Beberapa jenis obat yang sering disalahgunakan harganya relatif mahal, dan tidak semua pemakai mempunyai penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dipenuhi dengan melakukan berbagai perbuatan kenakalan yang pada taraf tertentu bersifat kriminal seperti mencuri, merampok, dan mengompas.

Jika pada suatu waktu si pemakai jatuh sakit karena memakai obat (misaInya over dosis) maka diperlukan perawatan ahli dan mungkin rumah sakit biayanya mahal. Jika pemakai sakit dan tidak masuk kerja, maka pekerjaanya menjadi terbengkalai. Suatu periode yang seharusnya menghasilkan karya‑karya kreatif dan produktif yang dapat dimanfaatkan oleh orang banyak, akan menjadi hilang dan disamping itu perusahaan yang memperkerjakannya mungkin masih harus membayar gajinya. Kalau itu semua dihitung, betapa besarnya jumlah rupiah yang harus dikeluarkan oleh negara, individu dan masarakat.

2. Alasan Kepentingan & Ketahanan Negara:

Penyalahgunaan obat akan dapat merusak fisik dan mental remaja. Jika generasi muda yang diharapkan meneruskan pembangunan bangsa tidak mempunyai pekerjaan untuk bersaing dengan bangsa lain karena ’loyo’ akibat menyalahgunakan obat terlarang lalu siapa yang akan membela negara jika kepentingannya terancam.

Penyalahgunaan ini juga seperti penyakit menular, dimana penggunanya tidak akan puas menggunakan hanya untuk dirinya sendiri. Karena ia terjebak dengan masalah ekonomis (ia harus punya uang jika ia mau ’ngeboat’). Jalan yang paling mudah adalah menjadi pengedar dan ikut menyebarluaskan obat ini di kalangan muda lainnya.

Cara‑cara seperti ini juga bisa mengandung unsur politis dalam rangka ’pembodohan’ sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Penjajahan dengan cara seperti ini tentu saja tidak terlihat langsung namun punya efek yang cukup potensial. Dalam keadaan seperti ini mudah sekali mempengaruhi generasi dan bangsa, hingga bisa jadi kita kembali ’terjajah’ karena kita tidak berdaya lagi.

Sejalan dengan paparan diatas, Panazaba (2007) mengungkapkan kenyataannya para penyalahguna Napza adalah korban dan bukan kriminal, hal tersebut diuraikan dalam pernyataan sikap Hari Anti Madat Internasional pada tanggal 26 Juni 2007 di dalam audiensi bersama DPRD komisi E, bahwa :

”diharuskan ada kejelasan dan pembedaan antara pemakai Napza dengan pengedar Napza, pembedaan dalam hal sanksi dan hukum. Pemakai Napza merupakan korban pasar gelap bukan kriminalis, karena adanya pengedar yang memasarkan Napza secara ilegal, maka para pemakai yang sudah mengalami ketergantungan dan kecanduan semakin bertambah banyak, bahkan Undang-Undang No.22 tahun 1997 juga turut serta secara aktif menyebarkan epidemi HIV/AIDS, karena dengan adanya ketentuan jarum suntik sebagai bukti pelanggaran, sehingga banyak para pemakai Napza aktif yang takut untuk meminta jarum suntik di LSM atau Puskesmas yang melayani bidang harm reduction, sehingga untuk memenuhi kebutuhan adiksinya mereka menggunakan jarus suntik secara bersama-sama dan bergantian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: